{"id":30,"date":"2026-05-11T02:34:55","date_gmt":"2026-05-11T02:34:55","guid":{"rendered":"https:\/\/speedofesta.com\/?p=30"},"modified":"2026-05-11T02:34:55","modified_gmt":"2026-05-11T02:34:55","slug":"tanpa-hukum-manusia-adalah-serigala-bagi-sesamanya-thomas-hobbes-dan-alasan-kita-butuh-penguasa-yang-tegas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/speedofesta.com\/index.php\/2026\/05\/11\/tanpa-hukum-manusia-adalah-serigala-bagi-sesamanya-thomas-hobbes-dan-alasan-kita-butuh-penguasa-yang-tegas\/","title":{"rendered":"Tanpa Hukum, Manusia Adalah Serigala bagi Sesamanya \u2014 Thomas Hobbes dan Alasan Kita Butuh Penguasa yang Tegas"},"content":{"rendered":"\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Halo, Para Pencari Ketertiban!<\/h2>\n\n\n\n<p>Pernah nggak sih, kamu membayangkan dunia tanpa hukum? Tanpa polisi, tanpa hakim, tanpa aturan. Setiap orang bebas melakukan apa pun yang ia mau \u2014 mengambil barang orang lain, melukai, bahkan membunuh tanpa takut dihukum.<\/p>\n\n\n\n<p>Menarik? Atau justru mengerikan?<\/p>\n\n\n\n<p>Bagi <strong>Thomas Hobbes<\/strong>, gambaran itu sangat mengerikan. Dan dari rasa takut itulah, Hobbes membangun teori hukumnya yang terkenal. Hari ini kita akan ngobrol santai tentang siapa Hobbes dan mengapa ia percaya bahwa <strong>hukum yang tegas adalah harga yang harus dibayar untuk kedamaian<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p>Siap? Kita mulai!<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Siapa Itu Thomas Hobbes?<\/h2>\n\n\n\n<p><strong>Thomas Hobbes<\/strong> (1588\u20131679) adalah filsuf Inggris yang hidup di masa penuh gejolak perang saudara Inggris, kekacauan politik, dan ketidakpastian. Pengalaman langsung melihat kerusuhan itulah yang membentuk pandangannya tentang manusia dan hukum.<\/p>\n\n\n\n<p>Bukunya yang paling terkenal, <strong>&#8220;Leviathan&#8221;<\/strong> (1651), menjadi salah satu karya paling berpengaruh dalam filsafat politik dan hukum. Nama &#8220;Leviathan&#8221; sendiri diambil dari monster laut dalam kitab suci \u2014 melambangkan negara yang kuat dan raksasa.<\/p>\n\n\n\n<p>Hobbes tidak percaya pada kebaikan alami manusia. Baginya, manusia pada dasarnya adalah makhluk egois yang hanya mengejar kepentingannya sendiri. Dan di situlah hukum berperan penting.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Inti Pemikiran Hobbes, Manusia Serigala bagi Manusia Lain<\/h2>\n\n\n\n<p>Pernah dengar istilah <strong>&#8220;Homo homini lupus&#8221;<\/strong>? Artinya &#8220;Manusia adalah serigala bagi manusia lain.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Itulah gambaran Hobbes tentang keadaan alamiah manusia \u2014 sebelum ada hukum, sebelum ada negara, sebelum ada aturan. Dalam kondisi ini, Hobbes menyebutnya sebagai <strong>&#8220;State of Nature&#8221;<\/strong> (Keadaan Alamiah).<\/p>\n\n\n\n<p>Bayangkan:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Semua orang punya hak atas segala sesuatu, termasuk tubuh dan harta orang lain.<\/li>\n\n\n\n<li>Tidak ada yang aman. Rumahmu bisa dirampok kapan saja.<\/li>\n\n\n\n<li>Tidak ada industri, tidak ada perdagangan, tidak ada peradaban.<\/li>\n\n\n\n<li>Hidup manusia <strong>&#8220;solitary, poor, nasty, brutish, and short&#8221;<\/strong> \u2014 menyendiri, miskin, jahat, kasar, dan singkat.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Menyeramkan, kan?<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Solusi Hobbes, Kontrak Sosial dan Hukum<\/h2>\n\n\n\n<p>Karena hidup dalam keadaan alamiah itu mengerikan, manusia akhirnya menggunakan akalnya untuk mencari jalan keluar. Solusinya? <strong>Membentuk masyarakat dan menyerahkan sebagian kebebasan mereka kepada seorang penguasa absolut<\/strong> \u2014 yang Hobbes sebut sebagai <em>Leviathan<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Prosesnya disebut <strong>Kontrak Sosial<\/strong> (<em>Social Contract<\/em>):<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Setiap orang sepakat untuk melepaskan hak alamiahnya untuk melakukan apa pun.<\/li>\n\n\n\n<li>Mereka menyerahkan kekuasaan itu kepada seorang penguasa (raja, pemerintah, atau dewan).<\/li>\n\n\n\n<li>Sebagai gantinya, penguasa menjamin keamanan dan ketertiban.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p>Dari sinilah hukum lahir.<\/p>\n\n\n\n<p><em><strong>Hukum menurut Hobbes<\/strong>. Hukum adalah perintah dari penguasa (sovereign) yang wajib ditaati oleh seluruh rakyat, dengan ancaman sanksi bagi yang melanggar.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Sederhana, tegas, dan tidak ada ruang untuk tawar-menawar.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Ciri-Ciri Hukum ala Hobbes<\/h2>\n\n\n\n<p>Mari kita rinci agar lebih paham:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">1. Hukum adalah Perintah, Bukan Nasihat<\/h3>\n\n\n\n<p>Hukum bukan sekadar saran atau rekomendasi. Hukum adalah komando dari penguasa. Kamu tidak bisa bilang &#8220;Saya setuju&#8221; atau &#8220;Saya tidak setuju&#8221;. Kamu hanya bisa patuh \u2014 atau siap menerima konsekuensi.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">2. Hukum Harus Jelas dan Tegas<\/h3>\n\n\n\n<p>Aturan yang membingungkan atau multitafsir tidak berguna. Hukum harus terang benderang, sehingga semua orang tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">3. Hukum Ditegakkan dengan Sanksi<\/h3>\n\n\n\n<p>Tanpa sanksi, hukum hanyalah omong kosong. Bagi Hobbes, hukuman adalah bagian penting dari hukum. Rasa takut akan hukumanlah yang membuat orang mematuhi aturan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">4. Tidak Ada Hukum tanpa Kekuasaan<\/h3>\n\n\n\n<p>Ini poin krusial. Hobbes tidak percaya pada hukum yang hanya berdasarkan moral atau agama. Hukum butuh &#8220;gigi&#8221; \u2014 butuh polisi, hakim, algojo, penjara. Tanpa kekuasaan, hukum tidak lebih dari tinta di atas kertas.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Seputar &#8220;Lex Iniusta Non Est Lex&#8221;? Hobbes Tidak Setuju!<\/h2>\n\n\n\n<p>Ada pepatah hukum Latin. <em>Lex iniusta non est lex<\/em> \u2014 &#8220;Hukum yang tidak adil bukanlah hukum.&#8221; Ini pendapat yang dipegang oleh aliran hukum alam (seperti Thomas Aquinas).<\/p>\n\n\n\n<p>Tapi Hobbes <strong>tidak setuju<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut Hobbes, selama perintah itu berasal dari penguasa yang sah, ia tetap wajib ditaati \u2014 meskipun kita merasa tidak adil. Karena membangkang terhadap hukum berarti kembali ke keadaan alamiah yang kacau balau.<\/p>\n\n\n\n<p>Contoh ekstrem. Kalau penguasa memerintahkan seseorang untuk mati (hukuman mati), maka orang itu tetap harus menerimanya. Karena Protokol kontrak sosial sudah disepakati demi keamanan bersama, kekuasaan absolut diberikan kepada penguasa.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Catatan. Pandangan ini tentu kontroversial. Banyak filsuf sesudah Hobbes (seperti John Locke) mengkritiknya habis-habisan. Tapi Hobbes memang dikenal radikal \u2014 dan itulah yang membuatnya menarik!<\/em><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Hobbes vs Van Apeldoorn vs Kant<\/h2>\n\n\n\n<p>Supaya tidak bingung, mari kita bandingkan tiga tokoh yang sudah kita bahas:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table is-style-stripes\"><table class=\"has-fixed-layout\"><thead><tr><th>Aspek<\/th><th>Van Apeldoorn<\/th><th>Immanuel Kant<\/th><th>Thomas Hobbes<\/th><\/tr><\/thead><tbody><tr><td>Fokus<\/td><td>Hukum sebagai peraturan memaksa<\/td><td>Hukum sebagai wujud kebebasan rasional<\/td><td>Hukum sebagai alat ketertiban mutlak<\/td><\/tr><tr><td>Sumber hukum<\/td><td>Aturan yang berlaku di masyarakat<\/td><td>Akal budi &amp; Imperatif Kategoris<\/td><td>Perintah penguasa (Leviathan)<\/td><\/tr><tr><td>Tujuan hukum<\/td><td>Mengatur tata tertib<\/td><td>Melindungi kebebasan individu<\/td><td>Mencegah chaos dan kekerasan<\/td><\/tr><tr><td>Pandangan manusia<\/td><td>Netral<\/td><td>Manusia rasional &amp; bermoral<\/td><td>Manusia egois &amp; butuh dikendalikan<\/td><\/tr><tr><td>Bolehkah melawan hukum tidak adil?<\/td><td>Tergantung konteks<\/td><td>Tidak boleh, hukum harus diubah lewat proses<\/td><td>Tidak boleh sama sekali!<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p>Kant optimis dengan akal manusia. Hobbes pesimis. Van Apeldoorn di tengah-tengah, lebih deskriptif.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Apakah Hobbes Masuk Akal untuk Masa Kini?<\/h2>\n\n\n\n<p>Jujur, pandangan Hobbes terdengar ekstrem dan mungkin &#8220;kejam&#8221;. Tapi coba lihat realitas di sekitar kita:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Mengapa kita butuh polisi? Karena ada orang yang tidak akan patuh kalau hanya diminta baik-baik.<\/li>\n\n\n\n<li>Mengapa kita butuh kamera CCTV? Karena rasa takut ketahuan membuat orang berpikir dua kali sebelum mencuri.<\/li>\n\n\n\n<li>Mengapa kita butuh hukuman bagi koruptor? Karena tanpa itu, siapa yang akan berhenti mengambil uang rakyat?<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Hobbes mengajarkan kita untuk realistis. Manusia tidak selalu baik. Terkadang, <strong>ketakutan akan hukuman<\/strong> memang lebih efektif daripada imbauan moral.<\/p>\n\n\n\n<p>Tapi apakah kita harus menyerahkan kebebasan sepenuhnya kepada penguasa seperti yang dikehendaki Hobbes? Di zaman demokrasi modern, jawabannya tentu <strong>tidak<\/strong>. Kita percaya pada keseimbangan hukum tegas, tapi tetap ada mekanisme kontrol agar kekuasaan tidak disalahgunakan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Hobbes, Sang Realis yang Jujur<\/h2>\n\n\n\n<p>Thomas Hobbes mungkin tidak populer di kalangan aktivis HAM atau pejuang kebebasan mutlak. Tapi ia jujur. Ia tidak tersenyum manis tentang sifat manusia. Ia melihat langsung kekacauan perang saudara dan berkata &#8220;Tidak, aku tidak ingin hidup seperti itu. Aku rela kehilangan sedikit kebebasan asalkan aku bisa tidur nyenyak tanpa takut dibunuh di tengah malam.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Hukum menurut Hobbes keras, tegas, dan tidak toleran terhadap pembangkangan. Tapi di balik itu semua, tujuannya luhur <strong>perdamaian dan keselamatan<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p>Maka, setiap kali kamu mematuhi rambu lalu lintas, membayar pajak, atau tidak mencuri, ingatlah Hobbes. Kamu tidak melakukannya karena kamu baik. Kamu melakukannya karena kamu sadar tanpa hukum, dunia akan kacau.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Terima kasih sudah bertahan 5 menit bersama Hobbes yang jujur sekaligus menakutkan. Kalau artikel ini membuatmu merenung \u2014 atau setidaknya tersenyum \u2014 bagikan ke teman yang suka diskusi tentang kekuasaan, ketertiban, dan harga dari sebuah kedamaian.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Sampai jumpa di petualangan filsafat berikutnya!<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Halo, Para Pencari Ketertiban! Pernah nggak sih, kamu membayangkan dunia tanpa hukum? Tanpa polisi, tanpa hakim, tanpa aturan. Setiap orang bebas melakukan apa pun yang&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":12,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[14],"tags":[26,25,23],"class_list":["post-30","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-law","tag-hukumdankekuasaan","tag-kontraksosial","tag-thomashobbes"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/speedofesta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/speedofesta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/speedofesta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/speedofesta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/speedofesta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=30"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/speedofesta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":31,"href":"https:\/\/speedofesta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30\/revisions\/31"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/speedofesta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/speedofesta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=30"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/speedofesta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=30"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/speedofesta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=30"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}